Langsung ke konten utama

Ibadah Ritual vs Ibadah Sosial


4-5 tahun ke belakang ini, saya (dengan versi yang cenderung jahat) selalu berasumsi bahwa ibadah sosial jauh lebih memiliki dampak daripada ibadah ritual. Didukung juga oleh dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadis yang menerangkan tentang itu, seperti kisah seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan serta kisah orang yang diterima hajinya padahal ia tidak berhaji ke Mekkah, melainkan menyedekahkan semua uang tabungan hajinya untuk seorang janda di kampungnya. Singkatnya seperti itu.

Namun, apakah asumsi saya selama ini benar? Selama itu saya berasumsi, dan selama itu pula saya sangat menyepelekan ibadah-ibadah ritual (mahdhah) yang pernah saya jalani dengan sangat konsisten, terlebih sewaktu mondok dahulu. Ternyata, saya merasakan sangat tersiksa. Saya mulai merokok dan sekali-sekali minum alkohol jika ditawari teman (tapi alhamdulillah tidak pernah sampai mabuk). Dengan dalih Allah Maha Pemurah dan Pengampun, saya cukup berbuat baik kepada manusia, dan jangan sampai menyakiti serta menzalimi orang lain. Itulah yang akan membuat saya masuk surga.

Tapi jujur saja, jika ibadah ritual tidak dilaksanakan dengan baik, bagi saya pribadi, sangat menyiksa batin. Justru banyak sekali peristiwa yang sangat saya sesali ketika banyak menyepelekan ibadah-ibadah ritual yang sudah ditetapkan oleh agama. Hati saya seperti kotor; mudah sekali membicarakan orang lain, tidak memiliki perasaan jika melihat postingan-postingan manusia yang sedang dizalimi, misalnya di Palestina. No more sense, sudah mati rasa. Yang ada hanya ambisi duniawi yang tidak ada habisnya: uang, wanita, ketenaran, pengakuan—itulah yang selalu menjadi obsesi saya.

Jadi, dalam situasi apa pun, sepertinya menjadi orang biasa-biasa saja bukanlah hal yang hina. Tidak perlu berpikir macam-macam atas ketetapan Allah yang sudah mapan. Buat apa Allah menyulitkan Nabi Muhammad untuk Isra dan Mi'raj hanya untuk menerima perintah salat?

Saya mulai menyimpulkan bahwa ibadah yang dimaksudkan dalam Adz-Dzariyat ayat 56 secara orisinil adalah ibadah ritual. Adapun ibadah sosial akan berjalan dengan sendirinya dengan aktivitas duniawi yang kita lakukan jika ibadah ritual sudah memiliki kualitas yang sangat baik. Aktivitas duniawi seorang manusia tidak otomatis menjadi ibadah kepada Allah sepenuhnya. Itu akan disaring terlebih dahulu dan dilihat bagaimana niatnya. Kalau sekadar bekerja mencari nafkah hanya untuk menghidupi anak istri tanpa memiliki niat beribadah, maka tidak akan menjadi ibadah. Sebagai penutup, guru saya di Mesir, Syaikh Hisham Kamil, berkata: "Niat adalah pembeda antara kebiasaan dan ibadah."

Komentar