4-5 tahun ke belakang ini, saya (dengan versi yang cenderung jahat) selalu berasumsi bahwa ibadah sosial jauh lebih memiliki dampak daripada ibadah ritual. Didukung juga oleh dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadis yang menerangkan tentang itu, seperti kisah seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan serta kisah orang yang diterima hajinya padahal ia tidak berhaji ke Mekkah, melainkan menyedekahkan semua uang tabungan hajinya untuk seorang janda di kampungnya. Singkatnya seperti itu. Namun, apakah asumsi saya selama ini benar? Selama itu saya berasumsi, dan selama itu pula saya sangat menyepelekan ibadah-ibadah ritual (mahdhah) yang pernah saya jalani dengan sangat konsisten, terlebih sewaktu mondok dahulu. Ternyata, saya merasakan sangat tersiksa. Saya mulai merokok dan sekali-sekali minum alkohol jika ditawari teman (tapi alhamdulillah tidak pernah sampai mabuk). Dengan dalih Allah Maha Pemurah dan Pengampun, saya cukup berbuat baik kepada manusia, da...
Isinya renungan, inspirasi, dan pemikiran-pemikiran genuine yang keluar dari kepala saya