Bismillah, Semoga Shalawat dan Salam selalu dihaturkan kepada Baginda Nabi Muhammad.
Judul diatas adalah salah satu dari dua kisah yang disampaikan oleh Habib Quraisy Baharun, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Lughah wad Dakwah mengenai kemuliaan keturunan Rasulullah Shalllallahu 'alaihi Wasallam. Sebelum memulai kisah kisah tersebut. Habib Quraisy menyampaikan kepada jama'ah suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang keutamaan Ahlul Bait Rasulullah yang berbunyi :
"Aku ini adalah seorang manusia biasa yang akan meninggal, mungkin sebentar lagi akan ada utusan Tuhanku yang menjemput ruhku dan aku akan menerima undangannya. Maka aku tinggalkan kepada kalian dua perkara : Kitabullah dan keluargaku. Dan aku ingatkan kalian terkait dengan keluargaku"
Setelah menyampaikan Hadist ini, Habib Quraisy Baharun juga sedikit mengkritik orang-orang yang hanya memegang Hadist tentang keutamaan Kitabullah serta Sunnah Rasul dan seakan melupakan Hadist yang diriwayatkan Imam Muslim diatas. Padahal, Hadist tentang keutamaan Kitabullah dan Sunnah Rasul itu diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam mustadraknya. Sebagai seorang penuntut ilmu agama yang baik. Kitab Bukhari dan Muslim atau yang biasa disebut dengan Shahihain adalah suatu prioritas utama dalam periwayatan dan pengamalan suatu Hadist.
Habib Quraisy Baharun pun memulai kisah nya dengan kisah seorang Habib yang hidupnya sangat sengsara. Ia sudah berusaha mencari kerja kesana kemari tetapi hasilnya nihil. Mau meminta kepada orang lain pun sangat malu. Sebab kata Habib Quraisy Baharun, tabiat orang Quraisy itu biasanya tidak mau rendah diri dimata orang lain. Jangankan untuk meminta, membungkukan badan untuk mengambil sesuatu yang jatuh pun sangat malu. Habib tersebut pun berpikir, bagaimana bisa memberi makan anak dan istrinya sedangkan sekeping uang pun tidak ia miliki. Akhirnya Habib tersebut memutuskan untuk berhutang saja dari pada meminta.
Habib itu pergi kepasar sembari membawa secarik kertas. Ia mencari penjual makanan pokok seperti gandum, dan kacang-kacangan. Kemudian ia memberitahu kepada penjual tersebut bahwa ia mau membeli gandumnya dengan secarik kertas saja. Penjual itu mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang ada di kertas itu, kertas itu bertuliskan "Gandum-gandum ini akan dibayar oleh kakekku, Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam."
Penjual itu langsung mengerti bahwa yang ada dihadapannya adalah seorang Habib, seorang keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyiapkan beberapa kilo gandum untuk Habib tersebut dengan niat agar mendapatkan berkah karena memuliakan keluarga Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam.
Petang tiba, penjual gandum tadi pulang ke rumah. Ia menceritakan tentang semua yang ia alami kepada istrinya setelah seharian berdagang di pasar. Ada yang protes, ada yang memberikan uang lebih, termasuk cerita bersama Habib yang berhutang dengan menuliskan secarik kertas. Setelah mendengar cerita tentang seorang Habib yang berhutang, istri penjual gandum itu sedikit marah kepada suaminya, kenapa semudah itu mempercayai orang sebagai keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam, apalagi sampai berhutang dan tidak pasti kapan akan dibayar. Si penjual gandum tadi memikirkan juga apa yang telah diucapkan istrinya. Ia memutuskan untuk tidak akan memberikan barang dagangannya kepada orang yang seperti tadi.
Kantuk menyapa, ia pun tertidur. lalu bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam yang sedang menegurnya karena ragu untuk menolong keluarga Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam yang sedang kesusahan. Di dalam mimpi itu si penjual tadi meminta maaf kepada Baginda Rasul. Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam pun menerima maaf nya dan menawarkan ia pilihan, mau ganjaran di dunia atau di akhirat. Si penjual tadi memilih untuk mendapatkan ganjaran di akhirat yang sifatnya abadi. Akhirnya ia terbangun dan semua dagangannya diberikan kepada Habib tersebut karena ingin mendapatkan ganjaran di akhirat yang lebih besar dari keuntungan dunia yang fana.
Kisah kedua yang diceritakan Habib Quraisy Baharun adalah kisah seorang Syarifah yang menjanda karena ditinggal wafat suaminya. Syarifah tersebut memiliki tiga orang anak perempuan yang masih kecil. Ia sangat kebingungan bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Akhirnya Syarifah tersebut memutuskan untuk pergi kepada seorang Mufti di daerahnya. Setelah bertemu sang Mufti, Syarifah tersebut berkata :
"Wahai Mufti, saya adalah seorang Syarifah yang sedang kesulitan. Suami saya meninggal, dan saya memiliki tiga orang anak perempuan yang masih kecil. Mohon kiranya Tuan Mufti berkenan untuk menolong saya."
Mufti tersebut mengerutkan dahi, seakan tidak percaya. Ia pun berkata "Apa buktinya kalau kamu adalah seorang Syarifah"
Syarifah tadi bingung untuk memberikan bukti kalau ia adalah keturunan Rasulullah. Sebab kata Habib Quraisy Baharun, dahulu belum ada lembaga khusus yang mengurus perkara nasab Sayyid, Habib dan juga Syarifah. Tidak seperti di Indonesia sekarang yang diberikan sertifikat nasab resmi dari Rabithah Alawiyyah sebagai bukti bahwa dia adalah seorang Habib atau Syarifah.
Akhirnya, syarifah tadi pulang dengan tangan hampa, sementara ketiga anaknya dirumah kelaparan dan menunggu ibunya kembali.
Di perjalanan, Syarifah itu berpapasan dengan seorang yahudi. Seorang yahudi tadi iba melihatnya yang jalan tergopoh-gopoh lemas sendirian. Akhirnya ia bertanya kepada Syarifah tersebut
"Apakah ibu sedang membutuhkan sesuatu?"
Syarifah tersebut menceritakan tentang keadaannya. Akhirnya seorang yahudi tadi menyuruh ia dan anak-anaknya untuk tinggal dirumahnya untuk sementara. Disana, mereka bisa memakan apa saja sembari mereka menunggu seorang yahudi tadi mencarikan tempat tinggal yang lebih nyaman untuk mereka semua. Semua biaya Syarifah dan anak-anaknya akan ia tanggung.
Ketika malam tiba, Mufti yang dimintakan tolong oleh Syarifah tadi bermimpi berada di padang mahsyar. Ia melihat ratusan, jutaan, milyaran lautan manusia sedang sibuk mencari Syafaat. Di dekat padang mahsyar itu telihat gerbang-gerbang dan rumah-rumah yang sangat indah. Tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terlintas di dalam pikiran. Ia pun menghampiri Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam, dan bertanya :
"Wahai Rasulullah, rumah-rumah yang indah itu untuk siapa?"
"Untuk ummatku." Kata Rasul.
Mufti tadi pun bertanya lagi "Apakah aku termasuk ummatmu wahai Rasulullah?"
Rasul pun menjawab "Mana buktinya jika kamu adalah umatku?"
Mufti tadi terbangun dan teringat atas perlakuannya pada seorang ibu yang mengaku sebagai Syarifah. Setelah fajar datang, Mufti itu bergegas mencari-cari keberadaan Syarifah tersebut. Singkat cerita, bertemulah Mufti tersebut dengan seorang yahudi yang menolong Syarifah dan keluarganya.
"Apakah ada bersamamu seorang Ibu yang sedang kesusahan beserta anak-anaknya?" Tanya Mufti
"Ya, mereka semua ada dirumah ku untuk ku beri makan dan semua biaya kehidupan mereka aku tanggung." Jawab seorang yahudi tadi.
"Tolong berikan mereka kepadaku agar aku bisa memberi mereka pertolongan juga." Kata Mufti
"Tidak bisa, mereka semua sudah ada dalam tanggunganku. Mereka semua adalah keluarga Rasululllah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Semalam aku bermimpi bertemu Rasul dan ia mengislamkanku. Aku juga melihatmu dan rumah-rumah indah itu. Ketahuilah, bahwa Rasulullah bilang rumah-rumah yang indah itu adalah milikku."
Wa Shallallahu 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aalihi wa Shahbihi wa Baaraka wa Sallam.
Judul diatas adalah salah satu dari dua kisah yang disampaikan oleh Habib Quraisy Baharun, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Lughah wad Dakwah mengenai kemuliaan keturunan Rasulullah Shalllallahu 'alaihi Wasallam. Sebelum memulai kisah kisah tersebut. Habib Quraisy menyampaikan kepada jama'ah suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang keutamaan Ahlul Bait Rasulullah yang berbunyi :
"Aku ini adalah seorang manusia biasa yang akan meninggal, mungkin sebentar lagi akan ada utusan Tuhanku yang menjemput ruhku dan aku akan menerima undangannya. Maka aku tinggalkan kepada kalian dua perkara : Kitabullah dan keluargaku. Dan aku ingatkan kalian terkait dengan keluargaku"
Setelah menyampaikan Hadist ini, Habib Quraisy Baharun juga sedikit mengkritik orang-orang yang hanya memegang Hadist tentang keutamaan Kitabullah serta Sunnah Rasul dan seakan melupakan Hadist yang diriwayatkan Imam Muslim diatas. Padahal, Hadist tentang keutamaan Kitabullah dan Sunnah Rasul itu diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam mustadraknya. Sebagai seorang penuntut ilmu agama yang baik. Kitab Bukhari dan Muslim atau yang biasa disebut dengan Shahihain adalah suatu prioritas utama dalam periwayatan dan pengamalan suatu Hadist.
Habib Quraisy Baharun pun memulai kisah nya dengan kisah seorang Habib yang hidupnya sangat sengsara. Ia sudah berusaha mencari kerja kesana kemari tetapi hasilnya nihil. Mau meminta kepada orang lain pun sangat malu. Sebab kata Habib Quraisy Baharun, tabiat orang Quraisy itu biasanya tidak mau rendah diri dimata orang lain. Jangankan untuk meminta, membungkukan badan untuk mengambil sesuatu yang jatuh pun sangat malu. Habib tersebut pun berpikir, bagaimana bisa memberi makan anak dan istrinya sedangkan sekeping uang pun tidak ia miliki. Akhirnya Habib tersebut memutuskan untuk berhutang saja dari pada meminta.
Habib itu pergi kepasar sembari membawa secarik kertas. Ia mencari penjual makanan pokok seperti gandum, dan kacang-kacangan. Kemudian ia memberitahu kepada penjual tersebut bahwa ia mau membeli gandumnya dengan secarik kertas saja. Penjual itu mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang ada di kertas itu, kertas itu bertuliskan "Gandum-gandum ini akan dibayar oleh kakekku, Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam."
Penjual itu langsung mengerti bahwa yang ada dihadapannya adalah seorang Habib, seorang keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyiapkan beberapa kilo gandum untuk Habib tersebut dengan niat agar mendapatkan berkah karena memuliakan keluarga Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam.
Petang tiba, penjual gandum tadi pulang ke rumah. Ia menceritakan tentang semua yang ia alami kepada istrinya setelah seharian berdagang di pasar. Ada yang protes, ada yang memberikan uang lebih, termasuk cerita bersama Habib yang berhutang dengan menuliskan secarik kertas. Setelah mendengar cerita tentang seorang Habib yang berhutang, istri penjual gandum itu sedikit marah kepada suaminya, kenapa semudah itu mempercayai orang sebagai keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam, apalagi sampai berhutang dan tidak pasti kapan akan dibayar. Si penjual gandum tadi memikirkan juga apa yang telah diucapkan istrinya. Ia memutuskan untuk tidak akan memberikan barang dagangannya kepada orang yang seperti tadi.
Kantuk menyapa, ia pun tertidur. lalu bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam yang sedang menegurnya karena ragu untuk menolong keluarga Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam yang sedang kesusahan. Di dalam mimpi itu si penjual tadi meminta maaf kepada Baginda Rasul. Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam pun menerima maaf nya dan menawarkan ia pilihan, mau ganjaran di dunia atau di akhirat. Si penjual tadi memilih untuk mendapatkan ganjaran di akhirat yang sifatnya abadi. Akhirnya ia terbangun dan semua dagangannya diberikan kepada Habib tersebut karena ingin mendapatkan ganjaran di akhirat yang lebih besar dari keuntungan dunia yang fana.
Kisah kedua yang diceritakan Habib Quraisy Baharun adalah kisah seorang Syarifah yang menjanda karena ditinggal wafat suaminya. Syarifah tersebut memiliki tiga orang anak perempuan yang masih kecil. Ia sangat kebingungan bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Akhirnya Syarifah tersebut memutuskan untuk pergi kepada seorang Mufti di daerahnya. Setelah bertemu sang Mufti, Syarifah tersebut berkata :
"Wahai Mufti, saya adalah seorang Syarifah yang sedang kesulitan. Suami saya meninggal, dan saya memiliki tiga orang anak perempuan yang masih kecil. Mohon kiranya Tuan Mufti berkenan untuk menolong saya."
Mufti tersebut mengerutkan dahi, seakan tidak percaya. Ia pun berkata "Apa buktinya kalau kamu adalah seorang Syarifah"
Syarifah tadi bingung untuk memberikan bukti kalau ia adalah keturunan Rasulullah. Sebab kata Habib Quraisy Baharun, dahulu belum ada lembaga khusus yang mengurus perkara nasab Sayyid, Habib dan juga Syarifah. Tidak seperti di Indonesia sekarang yang diberikan sertifikat nasab resmi dari Rabithah Alawiyyah sebagai bukti bahwa dia adalah seorang Habib atau Syarifah.
Akhirnya, syarifah tadi pulang dengan tangan hampa, sementara ketiga anaknya dirumah kelaparan dan menunggu ibunya kembali.
Di perjalanan, Syarifah itu berpapasan dengan seorang yahudi. Seorang yahudi tadi iba melihatnya yang jalan tergopoh-gopoh lemas sendirian. Akhirnya ia bertanya kepada Syarifah tersebut
"Apakah ibu sedang membutuhkan sesuatu?"
Syarifah tersebut menceritakan tentang keadaannya. Akhirnya seorang yahudi tadi menyuruh ia dan anak-anaknya untuk tinggal dirumahnya untuk sementara. Disana, mereka bisa memakan apa saja sembari mereka menunggu seorang yahudi tadi mencarikan tempat tinggal yang lebih nyaman untuk mereka semua. Semua biaya Syarifah dan anak-anaknya akan ia tanggung.
Ketika malam tiba, Mufti yang dimintakan tolong oleh Syarifah tadi bermimpi berada di padang mahsyar. Ia melihat ratusan, jutaan, milyaran lautan manusia sedang sibuk mencari Syafaat. Di dekat padang mahsyar itu telihat gerbang-gerbang dan rumah-rumah yang sangat indah. Tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terlintas di dalam pikiran. Ia pun menghampiri Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam, dan bertanya :
"Wahai Rasulullah, rumah-rumah yang indah itu untuk siapa?"
"Untuk ummatku." Kata Rasul.
Mufti tadi pun bertanya lagi "Apakah aku termasuk ummatmu wahai Rasulullah?"
Rasul pun menjawab "Mana buktinya jika kamu adalah umatku?"
Mufti tadi terbangun dan teringat atas perlakuannya pada seorang ibu yang mengaku sebagai Syarifah. Setelah fajar datang, Mufti itu bergegas mencari-cari keberadaan Syarifah tersebut. Singkat cerita, bertemulah Mufti tersebut dengan seorang yahudi yang menolong Syarifah dan keluarganya.
"Apakah ada bersamamu seorang Ibu yang sedang kesusahan beserta anak-anaknya?" Tanya Mufti
"Ya, mereka semua ada dirumah ku untuk ku beri makan dan semua biaya kehidupan mereka aku tanggung." Jawab seorang yahudi tadi.
"Tolong berikan mereka kepadaku agar aku bisa memberi mereka pertolongan juga." Kata Mufti
"Tidak bisa, mereka semua sudah ada dalam tanggunganku. Mereka semua adalah keluarga Rasululllah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Semalam aku bermimpi bertemu Rasul dan ia mengislamkanku. Aku juga melihatmu dan rumah-rumah indah itu. Ketahuilah, bahwa Rasulullah bilang rumah-rumah yang indah itu adalah milikku."
Wa Shallallahu 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aalihi wa Shahbihi wa Baaraka wa Sallam.

Komentar
Posting Komentar