Bismillah, Semoga Shalawat dan Salam selalu dicurahkan kepada Nabi Muhammad.
Imam Malik bin Anas adalah Imam Madzhab Fiqih yang terkenal dengan Kitab Al-Muwattha' nya. Kitab Al-Muwattha' sendiri adalah kitab yang berisikan kumpulan Hadist-hadist Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam. Imam Malik juga dikenal sebagai Imam Darul Hijrah, Yaitu Imam Kota Madinah. Keterikatannya dan para pengikutnya yang ketat terhadap nash-nash dari Al-Qur'an dan Hadist membuat mereka dikenal sebagai anak-anak dari Madrasah Ahlul Hadist yang di prakarsai oleh Sayyidina Ibnu Umar dan Sayyidina Zaid bin Tsabit di kota Madinah. Untuk penjelasan yang lebih rinci seputar Imam Malik, Insya Allah akan penulis paparkan dalam poin-poin di bawah ini.
Nama, Nasab, dan Kelahirannya
Beliau memiliki nama lengkap sekaligus nasab : Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amru bin Al-Harist Al-Ashbahi.
Buyutnya yang bernama Abi Amir adalah salah satu pembesar Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam dan mengikuti semua peperangan di masa Nabi kecuali Perang Badar. Kakek Imam Malik yang bernama sama dengannya adalah tabi'in. Beliau adalah salah satu dari empat orang yang memandikan, menggotong, dan menguburkan jasad Utsman bin Affan ketika beliau wafat. Sedangkan Ayahnya yang bernama Anas adalah seorang ahli fiqih terkemuka yang banyak memiliki keutamaan. Banyak sekali penulis-penulis arab membukukan biografi tentang ayah dari Imam Malik tersebut.
Imam Malik lahir di Dzil Marwah, Madinah Al-Munawwarah pada tahun 93 H. Kelahirannya di Madinah tidak menunjukkan bahwa leluhur-leluhurnya juga menetap disana sejak lama. Leluhur Imam Malik sendiri adalah penduduk Yaman yang bermigrasi ke kota Madinah Al-Munawwarah.
Masa Kecil Imam Malik
Imam Malik tumbuh ditengah keluarga yang sangat memperhatikan Ilmu dan periwayatan Hadist Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam. Sungguh tidak aneh lagi bilamana beliau memiliki kecondongan kepada keduanya semenjak kecil. Meskipun dalam beberapa kesempatan beliau juga ikut berjualan roti bersama kakaknya.
Kakaknya yang bernama Nadhar adalah seorang yang cerdas dan terkenal di kalangan pengajar dan penuntut ilmu di Madinah. Pada saat itu, Imam Malik tidak pernah dipanggil namanya sendiri dan biasa dipanggil Akhu (Adiknya) Nadhar, karena yang masyhur pada saat itu adalah kakaknya. Namun, setelah Imam Malik kecil memulai belajar intensif bersama para masyayikh, nama Nadhar yang dahulu masyhur mulai tergeser dengan nama Imam Malik hingga Nadhar dipanggil dengan sebutan Akhu (Kakaknya) Malik karena dominannya kemasyhuran Malik dari pada sang kakak.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Imam Malik memulai perjalanan ilmiahnya dengan menghapal Al-Qur'an, kemudian mempelajari fiqih dan hadist. Setelah memiliki cukup umur, Ibunya membawa beliau ke Madrasah Bani Tayyim. Disana beliau bertalaqqi Al-Qur'an dengan Imam Nafi' bin Abdurrahman, seorang Qari' yang terkenal di Madinah. Kemudian beliau bertalaqqi Fiqih dengan Imam Rabi'ah bin Abi Abdirrahman yang masyhur dengan julukan Rabi'atura'yi. Bersama Imam Rabi'ah, Imam Malik kecil belajar Fiqih yang berhaluan Ra'yi atau kontekstual.
Setelah itu, Imam Malik mengambil sanad Hadist dari Abdullah bin Hurmuz yang bersambung ke Rasullah Shallallahu 'alaihi Wasallam melalui Abu Hurairah. Abdullah bin Hurmuz adalah guru yang paling lama ditimba ilmunya oleh Imam Malik. Beliau sangat dicintai oleh muridnya tersebut. Hampir saja semua akhlak baik yang dimiliki oleh Abdullah bin Hurmuz diikuti oleh Imam Malik.Sebagaimana yang Imam Malik katakan sendiri : "Dalam kurun waktu sepuluh thaun, aku tidak pernah menimba ilmu kepada siapapun kecuali Abdullah bin Hurmuz. Beliau adalah orang yang paling bisa membantah para Ahlul Ahwa dan melerai perpecahan yang ada pada kaum muslimin."
Selain yang disebutkan diatas, Imam Malik juga belajar Fiqih dan Hadist dari ulama-ulama besar seperti Yahya Al-Anshari, Az-Zuhri, Muhammad Al-Munkadir, Ibnu Dinar, dan Abu Zinad.
Dalam perjalanan beliau menuntut ilmu, tentu beliau tidak sendirian. Banyak sekali orang-orang yang ingin mendapatkan kelezatan beribadah kepada Allah melalui majelis-majelis dzikir dan ilmu. Karena terbiasa bertatap muka dalam majelis, tentu satu sama lain memiliki insting untuk saling mengenal. Disanalah Imam Malik bertemu dan bercengkrama dengan para sahabatnya, meskipun beliau juga memiliki sahabat pena yang sering beliau kirimi surat untuk berdiskusi. Diantaranya adalah ulama-ulama besar yang tidak bisa diremehkan lagi kapabilitas keilmuannya seperti Al-Laist bin Sa'ad, Al-Auza'i, Sufyan bin Uyainah, Abu Hanifah, dan Abu Yusuf.
Pujian para ulama terhadapnya
Imam As-Syafi'i berkata : "Jika disebutkan perihal Hadist, Imam Malik lah bintangnya. Belum ada seorangpun yang pernah aku temui dari kalangan ulama yang lebih terpercaya keilmuannya dari Imam Malik."
Abdullah bin Al-Mubarak berkata : "Jika aku disuruh untuk memilih seorang imam pada umat Nabi Muhammad, pasti aku akan memilih Imam Malik."
Ahmad bin Hanbal berkata : "Semoga Allah merahmati Imam Malik. Wejangan dan fatwa-fatwanya selalu membuat hatiku tenang."
Al-Laits bin Sa'ad berkata, "Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai di muka bumi dari Imam Malik."
Abdurrahman bin Mahdi berkata, "Aku tidak pernah bertemu orang yang lebih tajam ingatannya dari Imam Malik. Setiap aku bertemu dengan ulama di tanah Hijaz, mereka semua memuji-muji keilmuan beliau."
Wafat Imam Malik
Imam Malik wafat di Madinah Al-Munawwarah, Ahad, 22 Rabiul Awwal 179 H menurut pendapat yang paling terpercaya. Beliau dimakamkan di Baqi. (Dz)
Referensi :
- Tarikh Madzhahib Al-Islamiyah
- Muqoddimah As-Syarh As-Shagir
- Syajarah An-Nuur Az-Zakiyah
- Manaqib Al-Imam Malik

Komentar
Posting Komentar