Bismillah, Semoga Shalawat dan Salam selalu dihaturkan kepada Baginda Nabi Muhammad.
Bagi kaum muslimin di daerah Asia Tengah seperti India, Pakistan, Nepal, dll. pasti tidak asing lagi dengan nama tersebut. Sebab Imam Abu Hanifah adalah founding father dari madzhab fiqih yang mereka ikuti, yaitu Madzhab Hanafi. Berbeda dengan kaum muslimin di Indonesia yang bermadzhab Syafi'i. Nama beliau kurang dikenal orang banyak di bumi nusantara kecuali mereka yang mendalami Ilmu Syariah dan Fiqih secara kontinyu atau ndakik kalau kata orang jawa.
Lebih lengkapnya, Insya Allah penulis akan paparkan beberapa hal yang lebih rinci mengenai Imam Madzhab yang dijuluki Al-Imaam Al-A'zham
Latar Belakang Imam Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah memiliki nama lengkap Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit bin Zuthi. Beliau adalah keturunan Persia. Meskipun ada juga yang berpendapat bahwa beliau adalah keturunan Babilonia. Menurut riwayat yang kuat, Imam Abu Hanifah lahir di Kufah pada tahun 80 H dan tumbuh besar disana. Kufah pada saat itu adalah kota yang kerap menjadi tempat persinggahan para Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ayah dan Kakeknya pernah bertemu Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu. Bahkan Kakeknya pernah memberikan manisan khas Persia kepada Sayyidina Ali yaitu kue Faludzaj pada hari pergantian kalender matahari Iran, hari Niruz. Sayyidina Ali pun berterimakasih kepadanya dan berdo'a agar keluarga dan keturunan kakek Abu Hanifah diberikan keberkahan oleh Allah. Mungkin salahsatu dari keberkahan itu adalah lahirnya Imam Abu Hanifah.
Imam Abu Hanifah tumbuh dari keluarga yang sangat islami. Beliau mulai menghapalkan Al-Qur'an dari usia yang sangat muda dan menjadi orang yang sangat mencintai Tilawah Al-Qur'an. Perkataan ini juga dikuatkan oleh Imam Abu Yusuf dalam kitab Manaqib Abi Hanifah wa Shaahibaihi karya Imam Adz-Dzahabi : "Imam Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur'an sehari semalam. Dan ada yang berkata bahwa beliau mengkhatamkan Al-Qur'an pada hari-hari ganjil saja."
Pada bidang Qiro'at, dalam kitab Abu Hanifah, Hayaatuhu wa 'Ashruhu dijelaskan bahwa Beliau mengambil Qiro'at dari Imam Ashim, salah satu Ulama Qiro'at pada zaman itu. Qiro'at Imam Ashim sendiri adalah Qiro'at yang biasa dipakai oleh masyarakat Nusantara dan banyak negara muslim lainnya.
Meskipun Imam Abu Hanifah adalah seorang yang suka membaca Al-Qur'an, beliau juga terkenal sebagai orang yang ahli dalam berdagang. Karena sedari kecil sampai besar beliau selalu bergaul dengan dunia pasar dan perdagangan. Di pasar ia menjadi pedagang kain sutra. Keahlian berdagang kain sutra ini diturunkan oleh ayahnya yang juga memiliki profesi yang sama. Bahkan kesibukannya dalam perdagangan di pasar terkadang mengurangi waktunya untuk menghadiri majelis ilmu.
Bertemunya Imam Abu Hanifah dengan As-Sya'bi yang merubah kehidupannya
Suatu hari, Imam Abu Hanifah berjalan melewati As-Sya'bi. Lantas As-Sya'bi memanggil beliau
"Mau kemana kamu wahai anak muda?" Tanya As-Sya'bi
"Saya mau bertemu fulan di pasar." Jawab Abu Hanifah
"Kenapa kamu malah pergi ke pasar dan tidak pergi ke majelis-majelis Ulama?"
"Tidak, saya jarang mengikuti majelis-majelis itu."
"Jangan begitu, kamu harus menuntut ilmu dan mengikuti majelis para Ulama. Sungguh aku melihatmu sebagai pemuda yang cerdas dan memiliki semangat yang membara."
Dari percakapan itulah, Abu Hanifah berpikir tentang apa yang dikatakan As-Sya'bi. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan perdagangannya di pasar dan mulai intensif menghadiri majelis-majelis para Ulama dan mengkaji ilmu. Perkataan As-Sya'bi tadi sungguh sangat memberi manfaat kepada Abu Hanifah.
Imam Abu Hanifah mengawali perjalanan ilmiah nya di ranah Ilmu Kalam. Setelah beberapa waktu, ia beralih untuk mendalami Ilmu Fiqih. Dalam suatu pendapat, Imam Abu Hanifah meninggalkan Ilmu Kalam setelah melihat Imam Hammad bin Sulaiman -yang merupakan Ulama besar pada bidang Fiqih- menjawab pertanyaan seorang perempuan yang tidak bisa dijawab oleh ahli Ilmu Kalam dalam permasalah talak. Jawaban dilontarkan Ibnu Sulaiman itu sangat berbobot dan mudah dipahami. Sehingga Abu Hanifah pun mendekati Hammad bin Sulaiman lalu berguru dengannya serta sedikit demi sedikit merontokkan pemahaman-pemahaman yang keliru di dalam Ilmu Kalam.
Mengenai Akhlak dan Postur Tubuh Imam Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah memiliki postur tubuh yang ideal. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam. Jika berbicara, perkataannya sangat fasih dan membuat orang suka. Jika menginginkan sesuatu, beliau akan menggapainya dengan kuat. Wajahnya enak dipandang dan bersahaja. Tidak ada seorangpun yang berpapasan dengan Imam Abu Hanifah kecuali ia akan mencium wewangian harum dari parfum yang dipakai olehnya. Pakaian-pakaian yang ia kenakan juga bagus dan mahal. Menurut Abu Hanifah, ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah ta'ala atas nikmat yang diberikan.
Akhlak dan adab Abu Hanifah senantiasa mengikuti akhlak Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Diceritakan pula bahwa ia pernah mengumpulkan untung dari hasil perdagangannya selama bertahun-tahun untuk dikirim ke baghdad guna memenuhi kebutuhan para Ulama-ulama hadist disana yang meliputi makanan pokok, pakaian, serta uang tunai untuk keperluan sehari-hari. Ia pun berkata : "Ambillah semua keperluan kalian dan jangan memuji kecuali kepada Allah. Karena sesugguhnya aku tidak memberikan hartaku sama sekali. Tetapi karena Allah lah yang memberikannya melalui tanganku. Ini adalah untung perniagaan kalian semua." Hasan Al-Bashri berkata : "Ketika diminta sesuatu, hampir-hampir Imam Abu Hanifah selalu memberi."
Pernah suatu hari dalam majelis, ia menyampaikan : "Dalam pendapat ini, Hasan Al-Bashri keliru." lalu seorang laki-laki berkata dengan keras : "Berani-beraninya kamu berkata Hasan Al-Bashri bersalah wahai anak pezina!" Wajah Imam Abu Hanifah sama sekali tidak berubah. Kemudian berkata lagi dengan tenang : "Hasan Al-Bashri keliru, dan yang benar pada permasalahan ini adalah Ibnu Mas'ud."
Ketika Imam Abu Hanifah diumpat oleh seseorang dengan sebutan zindiq dan ahlul bid'ah, ia sama sekali tidak membela diri bahkan melawan. Justru ia menangis karena mengingat dosa-dosanya. Akhirnya orang yang mengumpat tadi meminta maaf kepada Imam Abu Hanifah.
Mengenai Ibadah dan Ketakwaannya
Imam Abu Hanifah layaknya cahaya para hamba Allah. Beliau adalah orang yang rajin puasa, membaca Al-Qur'an, dan shalat malam. Diriwayatkan pula bahwa ketika Imam Abu Hanifah membaca Al-Qur'an dan sampai kepada ayat :
"Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." (QS Al-Qamar : 46)
Ia mengulang-ulang ayat tersebut sampai beberapa kali lalu menangis dan tersungkur hingga datang adzan shubuh.
Mus'ar bin Kadam berkata : "Aku datang kepada Imam Abu Hanifah di masjid. Ternyata ia sedang melakukan shalat dhuha. Kemudian ia mengajar di majelis sampai datang adzan Dzuhur. Kemudian ia duduk untuk berdzikir sampai adzan ashar. Sehabis shalat ashar ia duduk lagi untuk berdzikir sampai shalat Maghrib. setelah shalat Maghrib ia pun berdzikir lagi sampai shalat Isya lalu pulang ke rumahnya. Aku pun berniat untuk memata-matai nya dengan bersembunyi di dekat rumahnya. Setelah sepertiga malam tiba, beliau terlihat keluar dari rumahnya, pergi ke masjid untuk shalat tahajjud dan menunggu shalat shubuh. Sehabis shubuh beliau berdzikir sampai Dzuhur, setelah dzuhur beliau memimpin majelis. Dan mengulangi sebagaimana hari pertama, dan seterusnya. Akhirnya aku putuskan kepada diriku untuk bermulazamah dengannya."
Kokohnya ketakwaaan kehati-hatiannya Imam Abu Hanifah membuatnya tidak mau menerima hadiah dari penguasa setempat dan memakan makanan jamuannya sama sekali. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan bin Ziyad dalam kitab Akhbaaru Abi Haniifah wa Ashaabih : "Demi Allah, Imam Abu Hanifah tidak pernah mau menerima sesuatu dari salah-satu dari penguasa setempat. Entah itu hadiah atau upah."
Ketika di Mekkah, Imam Abu Hanifah terkenal dengan orang yang paling rajin shalatnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan bin Uyainah : "Tidak pernah ada seseorang yang datang ke Mekkah pada zaman kami yang lebih banyak melakukan Shalat dari pada Imam Abu Hanifah."
Imam Abu Hanifah juga dikenal dengan orang yang tidak pernah mengghibah atau membicarakan keburukan orang lain meskipun itu adalah orang-orang yang membencinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Mubarak kepada Sufyan Ats-Tsauri : "Wahai bapaknya Abdullah (Sufyan Ats-Tsauri) alangkah jauhnya Abu Hanifah dari perbuatan ghibah. Bahkan aku tidak pernah mendengar ia mengghibah orang yang selama ini terkenal memusuhinya." Sufyan Ats-Tsauri menjawab : "Demi Allah, dia adalah orang yang paling berakal dari pada orang-orang yang selama ini memusuhinya."
Guru dan murid Imam Abu Hanifah
Zaman dimana Abu Hanifah hidup dikenal dengan zaman yang mengumpulkan antara keilmuan sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Zaman tersebut adalah zaman keemasan ilmu dan ulama. Imam Abu Hanifah hidup sattu zaman dengan empat orang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka adalah Anas bin Malik (93 H), Abdullah bin Abi Aufa (87 H), Sahal bin Sa'ad As-Sa'idi (88 H), Abu Thufail Amir bin Watsilah (102 H). Tetapi ia belum pernah mendengar hadist dari mereka satu huruf pun.
Imam Abu Hanifah memiliki guru dari segala bidang dan jalur yang berbeda-beda. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Sang Imam sendiri, bahwa suatu hari ia pernah bertemu dengan Khalifah Al-Mansur dan Isa bin Musa. Al-Mansur berkata : "Wahai Nu'man (Abu Hanifah) kepada siapakah engkau belajar?" Abu Hanifah menjawab : "Aku belajar dari Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Mas'ud melalui para sahabatnya." Al-Mansur berkata : "Sungguh engkau telah menjadikan dirimu sebagai seseorang yang mumpuni."
Imam Abu Hanifah hidup ditengah budaya keilmuan yang kuat. Ia kerap kali hadir duduk di majelis para Ulama, terutama di majelis ahli fiqih lulusan Iraq yang bernama Imam Hammad bin Sulaiman. Imam Abu Hanifah bermulazamah dengannya sampai Imam Hammad wafat. Selain itu Imam Abu Hanifah juga berguru kepada Atha bin Abi Rabah, Nafi' Maula Ibnu Umar, Ja'far As-Shadiq, Abdurrahman Al-A'raj,
Banyak pula ulama-ulama yang pernah berguru kepada Imam Abu Hanifah seperti Abu Yusuf, Muhammad As-Syaibani, Zufar bin Huzail, Al-Hasan bin Ziyad, Nuh bin Abi Maryam Al-Marwazi, Daud bin Nushair, Asaduddin bin Amru, Abdullah bin Al-Mubarak, dan anaknya sendiri Hammad bin Abi Hanifah.
Penjara dan wafatnya Imam Abu Hanifah
Pada zaman kekuasaan Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur, Imam Abu Hanifah dipanggil ke istana untuk dijadikan hakim resmi negara. Imam Abu Hanifah menolak panggilan itu dan tidak mau dijadikan hakim. Menurutnya jabatan hakim adalah jabatan yang sangat berat. Ia tidak sanggup untuk memberikan mashlahat kepada masyarakat umum secara menyeluruh. Bahkan ia menyampaikan kepada Khalifah Al-Ma'mun bilamana ia disuruh memilih antara menjadi hakim atau ditenggelamkan di sungai eufrat, tentu ia akan memilih ditenggelamkan di sungai eufrat. Karena penolakannya itulah, Imam Abu Hanifah di penjara oleh rezim Dinasti Abbasiyah kala itu.
Imam Abu Hanifah wafat tidak lama setelah ia dibebaskan dari penjara, yaitu di pertengahan Syawwal pada tahun 150 H. Meskipun dalam sumber lain dikatakan bahwa ia wafat pada tahun 151 H atau 153 H. Jenazah Imam Abu Hanifah dishalati oleh sekitar lima ribu jamaah termasuk Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur. Makam Imam Abu Hanifah berada di Baghdad, Iraq. Tepatnya di pemakaman Khaizaran. (Dz)
Sumber :
1. Akhbaaru Abu Hanifah wa Ashaabuh
2. Tarikh Al-Baghdaad
3. Siyar A'laami An-Nubala
4. Wafiyyatul A'yaan

Komentar
Posting Komentar