Langsung ke konten utama

Opiniku Tentang Mesir


Bismillah, Semoga Shalawat dan Salam-Nya selalu dihaturkan kepada Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Dari aku kecil, kata Mesir sudah tidak asing lagi ditelingaku. kata itu seakan selalu membawaku kepada perjalanan panjang kisah para Nabi yang sering diceritakan oleh kakek dan nenek ketika mereka berkunjung ke rumahku. Dari cerita Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, sampai konflik antara Musa dan Fir'aun yang tak pernah lekang oleh waktu.

Ketika aku duduk di bangku SMP, pengetahuanku tentang mesir kian meluas. Apalagi dahulu aku sering sekali nimbrung di forum online yang bernama kaskus. disitu banyak sekali artikel-artikel yang menceritakan tentang negeri mesir, dari misteri pembangunan piramid yang tak masuk akal, sampai isu uvo yang katanya mendarat di daerah padang pasir di negeri tersebut. Dan bersamaan dengan itu, guru-guru agama di sekolahku juga sering bercerita tentang Universitas Al-Azhar yang juga terletak di negeri tersebut. Yang konon katanya, Universitas tersebut adalah Universitas tertua di dunia, dan sudah memulai kegiatan belajar mengajarnya dari sepuluh abad yang lalu.

Kalau boleh kita menilik ke sejarah, dahulu Mesir sering disebut sebagai ummu ad-dunya yang memiliki arti sebagai pusat dunia. pasalnya, sedari dulu negeri mesir adalah negeri yang sangat subur dan selalu memberikan pasokan makanan kepada rakyat dari negeri manapun. Kesuburan Mesir sendiri disebabkan dari aliran sungai nil yang sangat panjang. Bahkan, sungai nil sendiri tercatat sebagai sungai paling panjang di dunia yang disusul juga oleh sungai Amazon di benua amerika. Eksistensi Mesir sebagai negara pemasok makanan kepada masyarakat di dunia juga diabadikan oleh kitab suci Al-Qur'an pada surat Yusuf ayat 88 :

"Maka ketika mereka masuk ketempat Yusuf, mereka berkata : Wahai Al-Aziz (Raja Mesir), kami dan keluarga telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang hanya membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah gandum untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersedekah."

Ayat diatas memang tidak secara eksplisit menjelaskan bahwa Mesir adalah negeri yang sering memberikan pasokan makanan kepada negeri manapun. Tetapi jika kita merujuk kepada sejarah, saudara-saudara Yusuf yang meminta pasokan makanan kepada beliau itu adalah penduduk Syam yang jelas-jelas bukan termasuk kawasan Mesir. Kalau di era saat ini, negeri Syam itu meliputi negara Palestina, Suriah, Lebanon, dan Yordania

Didalam Al-Qur'an pun negeri Mesir adalah negeri yang paling banyak disebutkan dibandingkan dengan negeri lainnya. Setidaknya, kurang lebih ada 35 kali penyebutan kosakata Mesir dalam kitab suci tersebut. Meskipun para Ulama sendiri berbeda pendapat, apakah Mesir adalah negeri yang diberkahi oleh Allah atau tidak. Karena, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri dalam Hadistnya yang sahih, hanya memuji Mekkah, Madinah, negeri Syam dan Yaman. Sedangkan hadist yang menerangkan tentang keutamaan Mesir kebanyakan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya bahkan palsu.

Dan aku bersyukur sekali, karena Allah mengizinkanku untuk memijakkan kaki di bumi para Nabi ini. Meskipun ketika sampai kesini, aku agak sedikit kecewa dengan kebersihan disebagian jalan-jalan di Mesir. Ku kira, hanya Indonesia saja yang kebersihannya kurang terjaga, ternyata ada yang lebih parah. Bahkan parah sekali.

Yang ada dibenakku sebelum aku terbang ke Mesir, negeri Mesir adalah negeri yang bagus, tertata rapih, dan memiliki beragam kebaikan-kebaikan lainnya. Karena kalau aku pikir-pikir, negara ini banyak sekali Ulama dan orang-orang shalehnya, dan banyak sekali para penghapal Al-Qur'an didalamnya. Bahkan ketika aku ngobrol dengan salah satu senior yang sudah pulang ke tanah air, anak-anak punk rock di jalan-jalan saja banyak yang hapal Al-Qur'an. Dan ketika sampai disini, ternyata ekspetasiku sama sekali terbalik 180 derajat. Terkadang aku bertanya-tanya mengapa justru negara-negara yang notabenenya mayoritas non-muslim itu tertata rapih, bersih, dan maju? Apa yang salah?

Meskipun ku akui, banyak juga kok negara-negara berpenduduk mayoritas muslim yang tertata rapih, bersih, dan maju seperti UEA, Saudi, Yordania, Turki, Bosnia, sampai Malaysia dan Brunei. Tetapi, Mesir itu adalah kiblat ilmu Umat Islam sedunia. Didalamnya ada Al-Azhar yang mencetak jutaan Ulama Islam, ada banyak sekali orang-orang terpelajar dan mengerti agama islam dengan sangat baik. Mengapa justru menjadi negara yang tertinggal dan kumuh. Yang aku takutkan, lambat laun pasti ada saja orang yang mengakatan : Ngapain sih belajar agama islam, tuh lihat saja Mesir, banyak Ulama, banyak yang belajar agama, tetapi negaranya kumuh, gak maju-maju.

Kalau seperti ini, siapa yang harus kita salahkan?
Ketika aku sampai disini juga, aku sangat kecewa dengan penduduknya yang kurang bersahabat. Mereka itu seperti ada kawat yang membuat bibirnya kaku, sulit sekali untuk tersenyum. Meskipun tidak semuanya juga.

Pemandangan orang ngadu bacot (kalau kata orang betawi) bahkan sampai berkelahi itu seperti sudah menjadi santapan kami sehari-hari. Kalau dirata-ratakan, mungkin setiap jamnya di negeri ini pasti ada yang ngadu bacot dan bertengkar. Menurut cerita-cerita kawan yang sudah berangkat haji dan umroh. Jika ada yang bertengkar di tanah suci, kemungkinan besar yang bertengkar itu adalah orang Mesir. Sebab mereka memang Allah anugerahi mulut yang sangat fasih dan suara yang sangat keras. Tetapi kalau sudah lama berada di Mesir, Insya Allah justru semua itu akan membuat kita lebih tahan banting. Bentakan mereka adalah asupan yang bergizi bagi kami sebagai mahasiswa yang sedang belajar disini.

Tetapi dibalik itu semua, menunurut ku negara Mesir adalah negara yang paling membuka jalan bagi kami para santri yang ingin belajar agama secara lebih dalam dengan biaya yang sangat terjangkau. Bayangkan saja, di Al-Azhar sendiri kami membayar uang kuliah dua semester hanya sekitar dua puluh ribu rupiah saja. Untuk kebutuhan sehari-hari pun, Alhamdulillah lebih murah dari biaya hidup di Indonesia. pasalnya, nilai tukar Pound Mesir itu lebih rendah ketimbang Rupiah. Itulah yang membuat uang kiriman dari Indonesia kesini jadi semakin banyak nilainya.

Penduduk disini pun sebenarnya sangat ringan tangan untuk menolong. Kalau misalnya kita tersesat disini, kemudian kita minta tolong untuk memberitahu jalan, mereka tak segan-segan untuk menolong. Bahkan beberapa orang yang sangat baik mengantarkan kita dengan kendaraan pribadinya sampai kepada tempat yang kita ingin tuju tanpa meminta bayaran. Agak lain dengan negeri kita. Dahulu, aku pernah tersesat di daerah jogja, dan meminta tolong kepada salah satu penduduk untuk memberitahu jalan. Alhamdulillah, dia mengantarkanku ke tempat yang aku tuju, tetapi dia meminta imbalan uang yang menurutku cukup besar nilainya.

Apalagi ketika bulan suci Ramadhan tiba, orang Mesir yang memiliki sifat seperti Fir'aun berubah menjadi Nabi Musa. Banyak sekali kejadian, ketika kami lagi dijalan untuk menunggu bis atau setelah turun dari bis, tiba-tiba mobil berhenti di dekat kami, kemudian orang yang didalamnya memberikan uang atau makanan secara cuma-cuma. Sebenarnya yang mereka minta sederhana, yaitu do'a dari para penuntut ilmu. Aku sendiri pun pernah diberikan uang 200 Pound Mesir dan buah apel secara cuma-cuma ketika bulan Ramadhan. Alhamdulillah.

Sebenarnya banyak sekali kebaikan-kebaikan orang-orang Mesir yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Seperti misalnya ada temanku yang menyervis handphone kepada salah satu counter handphone disini, kemudian setelah diservis, pegawainya bertanya 

"Apakah kamu mahasiswa?" temanku menjawab ya.

Lalu pegawai counter itu bilang "Kamu tidak perlu membayar, tapi tolong doakan agar Allah selalu memberkahi kehidupanku."

Masya Allah. Belum pernah sama sekali aku mendengar cerita yang seperti ini di bumi pertiwi yang didalamnya tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman.

Semoga tulisanku ini bermanfaat, Baarakallahu Fiikum.

Komentar