Langsung ke konten utama

Seputar Al-Azhar Kairo



Bismillah, Semoga Shalawat Allah dan Salam-Nya selalu dicurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad.

Ketika mendengar kalimat Al-Azhar Kairo, sebagian besar masyarakat Indonesia pasti tidak merasa asing dengan kalimat tersebut. Beberapa orang ada yang teringat kisah romantis Fahri dan Aisyah dalam Film Ayat-Ayat Cinta, sekaligus perjuangan seorang Azzam, mahasiswa Al-Azhar yang berjualan tempe di Mesir untuk memenuhi kebutuhannya dan adik-adiknya di tanah air dalam Film Ketika Cinta Bertasbih. Meskipun akhir-akhir ini, nama Al-Azhar kembali menggaung di tanah air karena seorang Ulama kharismatik dan humoris yang masyhur di seantero bumi melayu. Beliau adalah Ustadz Abdul Somad, Lc, MA. -Semoga Allah senantiasa menjaga beliau-

Kalau berbicara tentang Al-Azhar, sepertinya kurang afdhal kalau kita belum mengetahui sejarahnya secara detail. Karena banyak sekali orang-orang yang ingin menimba ilmu di Al-Azhar atau memberangkatkan anak-anaknya kesana tanpa mengetahui apa dan bagaimana Al-Azhar itu sendiri.

Masjid dan Ruwaq Al-Azhar mulai dibangun oleh pemerintahan Dinasti Fathimiah yang ketika itu dipimpin oleh Abu Al-Mashur Nizar Al-Aziz (975 M - 996 M) pada tahun 970 - 972 M. Nama Al-Azhar sendiri terinspirasi oleh putri Baginda Nabi yang bernama Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Adapun aktifitas belajar mengajar dimulai pada Oktober 975 M yang bertepatan juga dengan Bulan Suci Ramadhan. Kitab yang pertama kali diajarkan disana adalah Al-Ikhtishar, yang menjelaskan tentang teologi, hukum, dan filosofi sekte Syiah dan diampu oleh Abu Al-Hasan Ali bin An-Nu'man yang saat itu adalah ketua Mahkamah Agung Dinasti Fathimiah.

Peranan sekte Syiah dan Al-Azhar sendiri sangat tidak bisa dipisahkan. Karena dari tujuan utama didirikannya Al-Azhar sendiri adalah sebagai wadah untuk menyebarkan pemahaman Syiah kepada masyarakat Mesir yang pada saat itu banyak yang menganut paham Ahlussunnah Wal Jama'ah dan menolak kepemimpinan Dinasti Fathimiah. Semua Madzhab dilarang untuk dipelajari di Al-Azhar kecuali Madzhab Syiah.

Pada saat itu, pembelajaran di Al-Azhar dibagi menjadi empat kelas. Kelas yang pertama adalah kelas untuk umum yang diperuntukan bagi kaum Muslimin yang ingin belajar Al-Qur'an dan Tafsirnya. Kedua, adalah kelas bagi mereka yang dikhususkan untuk mengkaji permasalahan-permasalahan agama secara dalam dengan membentuk halaqah-halaqah yang dibimbing oleh para Murabbi atau tutornya masing-masing. Ketiga, adalah kelas Darul Hikam yang dikhususkan untuk para Muballigh atau penceramah. Dan yang terakhir adalah kelas yang dikhususkan untuk para Muslimah yang juga ingin mempelajari Agama Islam.

Kalau penulis cermati, model-model kelas diatas sebenarnya tidak terlalu berbeda juga dengan Al-Azhar yang sekarang. Biasanya pembelajaran untuk para Muslimah atau Ummahat dilaksanakan pagi sampai Shalat Dzhuhur. Selepas Dzhuhur, baru banyak kajian-kajian umum dan khusus bagi para pelajar-pelajar tingkat tinggi yang sudah mutakhassis atau fokus dalam bidangnya. Biasanya orang-orang yang mutakhassis ini sudah mendapatkan sematan Syaikh didalam namanya.

Pada tahun 576 Hijriah, atau 1171 Masehi, akhirnya Imperium Dinasti Fathimiah ditumbangkan oleh Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi. Dan pada saat itu, kegiatan belajar di Al-Azhar dinonaktifkan untuk memutuskan penyebaran pemahaman Syiah kepada Kaum Muslimin. Dan akhirnya, pada tahun 665 Hijriah, yang ketika itu dipimpin oleh Dinasti Mamalik, kegiatan belajar mengajar di Al-Azhar di aktifkan kembali. Namun kali ini, Al-Azhar difungsikan untuk menjadi pusat penyebaran pemahaman Ahlussunnah Wal Jama'ah di seantero Kaum Muslimin sampai saat ini.


Untuk metode pembelajaran dan pengajaran di Al-Azhar, saat ini baru ada dua metode yang sudah dipakai Al-Azhar. Yaitu metode pengajaran melalui kajian-kajian kitab di Masjid Al-Azhar secara non-formal, dan juga metode formal seperti halnya kita kuliah Universitas-universitas pada umumnya. Untuk metode yang pertama, kita tidak bisa mendapatkan ijazah secara resmi dari pemerintah Mesir. Meskipun ada juga ijazah-ijazah sanad kitab, Hadist, hafalan Al-Qur'an, dll. yang sudah menjadi kultur para Ulama terdahulu. Jika kita ingin belajar pada metode ini saja di Al-Azhar, sepertinya tidak bisa lama sampai berbulan-bulan jika tanpa mendaftarkan nama di Universitas. pasalnya, Al-Azhar tidak bisa memberikan surat perpanjang visa kecuali ia terdaftar sebagai Mahasiswa Al-Azhar secara formal. Kecuali jika kita memiliki link lain seperti mendaftarkan diri di institusi-institusi pendidikan yang ada di Mesir atau bahkan dengan berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Mesir.

Menurut penulis pribadi, Al-Azhar memiliki banyak sekali jasa kepada Umat Islam di dunia ini. Sebab banyak sekali tokoh-tokoh besar dalam suatu negara pernah mengenyam pendidikan disini. Negara Indonesia sendiri pernah dipimpin oleh duta Al-Azhar selama kurang lebih 2 tahun. Beliau adalah KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Provinsi Nusa Tenggara Barat juga tak luput dari pengaruh seorang Ahli Tafsir dari Al-Azhar. Beliau adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Zainal Majdi. Banyak sekali deretan tokoh-tokoh yang pernah belajar di Al-Azhar seperti Prof. Dr. Quraisy Shihab, Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail, Dr. Zain An-Najah, Prof. Dr. Amien Rais, KH Musthafa Bisri, Ustadz Abdul Somad, Habiburrahman El-Shirazy, dan masih banyak lagi. Bukan hanya banyaknya tokoh-tokoh bangsa yang pernah belajar di Al-Azhar, ternyata Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno juga memiliki jasa yang sangat besar bagi eksistensi Al-Azhar. Sebagaimana yang diceritakan oleh mantan Mufti Mesir, Syaikh Ali Jum'ah pada salah satu saluran televisi di Mesir bahwa, ketika Presiden Gamal Abdu Nasser memimpin, -Yang kebetulan juga beliau adalah sahabat karib Presiden Soekarno- beliau ingin menutup kegiatan belajar mengajar di Al-Azhar. Maka, beliau pun meminta pendapat kepada Presiden Soekarno. Adapun jawaban Soekarno adalah sebagai berikut :

"Kami Umat Islam di Indonesia dan sekitarnya, tidak pernah mengenal Mesir dengan piramida-piramidanya yang tinggi. Tetapi yang kami kenali tentang Mesir adalah adanya kiblat ilmu Umat Islam, yaitu Al-Azhar. Dan kalau sekarang Al-Azhar ingin engkau tutup, lalu bagaimana kami bisa mengenal Mesir kembali?" Jawaban tersebut membuat Presiden Gamal Abdu Nasser tertegun dan akhirnya beliau mengurungkan niat untuk menutup Al-Azhar. Dan dari sinilah Presiden Soekarno terkenal di benak masyarakat Mesir. Penulis sendiri sering sekali disapa oleh orang-orang Mesir -Khususnya oleh generasi yang sudah sepuh- dengan sebutan Ahlu Sukarno atau yang bermakna anak-anak negaranya Soekarno. Bahkan terkadang mereka memanggil penulis untuk sekedar memuji-muji Presiden Soekarno dan berterima kasih kepada beliau. Selain itu, di Mesir juga ada jalan yang bernama Jalan Soekarno dan juga Syaikh pengajar Azhar yang bernama Soekarno.Mungkin saking orang tua nya dahulu kagum dengan Presiden Soekarno.

Sistem kuliah formal di Al-Azhar sendiri agak berbeda dengan di Tanah Air. Kalau di Indonesia, hampir semua sekolah tinggi menggunakan sistem semester dan SKS. Serta ada kewajiban menulis skripsi sebelum lulus sarjana. Sementara di Al-Azhar sendiri sama seperti Universitas di timur tengah pada umumnya. Pembagian tingkat pertahun, bukan persemester. Mata kuliah pun di sama ratakan waktunya untuk semua Mahasiswa dan tidak ada kewajiban menulis skripsi. Bahkan Al-Azhar tidak menerapkan wajib absen kecuali pada fakultas tertentu. Kebijakan ini mungkin bisa jadi positif seperti membuat Mahasiswa enjoy dan tidak tertekan. atau bisa juga negatif karena terindikasi bisa membuat Mahasiswa tidak datang ke kuliah, untuk kepentingan organisasi, berkerja, atau bahkan malas.

Yang harus disyukuri oleh Mahasiswa Al-Azhar adalah biaya kuliah yang sangat terjangkau. Bayangkan saja, penulis sendiri hanya membayar pertahunya sekitar dua puluh ribu rupiah saja. Kalau kata ibunda penulis, itu sama saja tidak bayar. Adapun diktat kuliah tetap Mahasiswa yang membelinya di toko buku kampus. Meskipun tidak ada kewajiban untuk membelinya juga. Ada yang meminjam kepada senior atau teman yang membeli lebih dari satu.


Dosen-dosen di Al-Azhar, menurut penulis sangatlah beragam. Ada yang memiliki pemikiran yang keras, ada juga yang bebas. Ada yang penjelasannya membuat kantuk, ada yang ketika mengajar selalu mengundang gelak tawa. Tetapi secara umum, yang penulis suka dari dosen-dosen di Al-Azhar -Semoga Allah menjaga mereka semua- adalah manhaj wasathiy atau kemoderatan yang selalu dijunjung ketika menyikapi suatu hukum atau isu-isu yang tengah berkembang di dunia Islam. Misalnya ketika penulis mengikuti kelas Dr. Ahmad Sidqi yang saat itu sedang membahas mata kuliah Tarikh Tasyri' atau Sejarah Pembuatan Hukum Islam. Ketika sesi tanya jawab, ada Mahasiswa yang bertanya dengan menjelek-jelekan suatu sekte yang notabenenya tidak sejalan dengan pemikiran Al-Azhar. Meskipun begitu, Dr. Ahmad Sidqi dengan sabar memberitahu Mahasiswa tersebut, bahwa kalau ingin bertanya, jangan sampai sebut merek apalagi sampai menjelek-jelekannya. Apalagi mereka masih dalam koridor Tauhid. Masih saudara dengan kita. Seketika itu pula tepuk tangan Mahasiswa di auditorium bergemuruh memberi isyarat sepakat dengan perkataan beliau. dan Mahasiswa yang bertanya tadi, penulis lihat sedikit mati kutu.

Mahasiswa-mahasiswa di Al-Azhar pun beragam. Kalau orang asia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, dll. biasanya tidak terlalu vokal. Kalau orang Arab dan Afrika biasanya yang paling aktif. Adapun orang-orang Eropa dan Amerika biasanya ada yang vokal, aktif bertanya kepada Dosen, dan ada juga yang pendiam seperti orang-orang Asia. Jika datang musim-musim ujian, penulis perhatikan Mahasiswa-mahasiswa Al-Azhar sangat rajin sekali belajar. Apalagi orang Mesir. Di dalam bis mereka membaca buku, sambil menunggu bis baca buku, bahkan penulis pernah saksikan Mahasiswa mesir berjalan dengan memakai headphone sembari mulutnya komat kamit seperti mengulang pelajaran dan hapalan-hapalan definisi yang memangnya harus dihapalkan.

Tetapi, yang sangat penulis sayangkan, kebersihan di kampus Al-Azhar ini yang perlu dijadikan bahan evaluasi, apalagi kamar mandinya. Sering sekali penulis masuk kamar mandi yang di WC nya ada (maaf) kotoran manusia yang baunya sangat menyengat. Selain itu, terkadang banyak sekali sampah-sampah berserakan di koridor gedung atau di komplek kampus sehingga merusak pemandangan. Menurut penulis banyaknya sampah ini karena ada dua faktor, yang pertama karena jarangnya ada tong sampah, sehingga orang-orang bingung untuk membuang sampah. Dan yang kedua, biasanya orang Mesir seenaknya saja buang sampah tanpa rasa bersalah. Dan terkadang sampahnya itu sampah yang tidak kecil seperti kaleng pepsi, botol minuman, bungkus kripik kentang, dll. Semoga kedepannya kebersihan kampus dan Mesir pada umumnya lebih terjaga lagi. Karena menurut penulis, kalau saja Mesir tiu bersih dari sampah-sampah berserakan. Penampakannya bisa mirip dengan negara-negara eropa. Pasalnya arsitektur bangunan-bangunan disini masih ada sentuhan eropanya. Mungkin karena dahulu pernah dijajah oleh Prancis.

Daya tampung auditorium dan kelas-kelas di Universitas Al-Azhar pun terkadang tidak sesuai dengan jumlah murid yang ada. Contoh di jurusan kami, Syariah Islamiyah. Jumlah keseluruhan Mahasiswa ada sekitar 600 keatas sedangkan daya tampung Auditorium hanya bisa menampung sebanyak-banyaknya 400 Mahasiswa. Jadi mau tidak mau, Mahasiswa yang terlambat harus berdiri, atau lesehan. Al-Azhar memang melatih kami untuk menjadi orang yang sabar. Apalagi ketika kami ijro'at atau pemberkasan untuk masuk ke tingkat selanjutnya, kami harus berangkat dari rumah bakda shubuh kalau ingin mendapatkan antrian depan. Pasalnya, dari ratusan Mahasiswa, syu'un atau bagian kepengurusan pemberkasan hanya dilayani oleh satu orang saja. dan administrasi disini masih menggunakan sistem manual.

Beginilah sensasi kuliah di Univeristas Al-Azhar yang legend itu. Insya Allah jika kita senantiasa bersabar dalam menghadapi semua hal yang ada di Universitas ini, akan membuat kepribadian kita semakin matang dan tahan banting. Apalagi bila sering dibentak oleh orang-orang arab karena suatu hal yang sepele. hehehe. Sekian dari penulis. Semoga tulisan ini bermanfaat, Barakallah Fiikum.

Was Sholatu was Salaamu 'ala Habiibil Musthafa ..

Komentar