Bismillah, Semoga Shalawat Allah dan Salam-Nya senantiasa di haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad.
Bagi anda yang sering bergaul dengan dunia perbajak lautan, entah itu di film, serial kartun, atau bahkan di novel-novel fiksi pasti tidak asing lagi dengan tokoh yang bernama Barbarrosa atau Si Janggut Merah. Tokoh ini selalu diceritakan sebagai tokoh bajak laut antagonis yang bengis serta tak berprikemanusiaan. Seperti di film peterpan dan pirates of the carribean. Padahal jika kita ungkap lagi sejarah aslinya, ternyata sangat berbalik seratus delapan puluh derajat. Bagi Umat Islam, Barbarrosa sendiri adalah seorang pejuang angkatan laut pada masa kepeminpinan turki ustmani yang sangat ditakuti oleh militer laut eropa karena ketangkasan beliau dalam memimpin pasukan dan mengatur strategi di lautan.
Awal Mula Kehidupan Barbarrossa
Khidir adalah nama asli beliau. Dan Khairuddin sendiri adalah nama yang diberikan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni sebagai gelar kehormatan karena besarnya kontribusi dan perjuangannya terhadap Islam. Sedangkan nama Barbarossa -yang diambil dari bahasa itali yang berarti Si Janggut Merah- adalah sematan yang diberikan orang-orang Eropa kepada beliau.
Khairuddin kecil dilahirkan di pulau Lesbos, Yunani dari sepasang suami istri beragama kristen ortodoks yang menjadi muallaf. Beliau adalah anak ke tiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Ya'kub Aga. Ya'kub adalah pejuang Turki Ustmani yang mengambil alih pulau Lesbos dari kekuasaan Dinasti Gattilussio pada tahun 1462 Masehi. Dan karena itulah, ayah dari Khairuddin tersebut diberikan ganjaran sepetak tanah oleh Pemerintah Turki Ustmani di kampung Bonova yang terletak di pulau itu. Sepetak tanah tersebut dimanfaat oleh Ya'kub untuk membuka usaha tembikar dan Khairuddin lah yang bertugas menjadi pengrajin tembikar yang akan dijual kepada masyarakat.
Selepas Khairuddin menjadi pengrajin tembikar, ia memulai karier nya di lautan menjadi seorang nelayan bersama tiga saudara kandungnya yang bernama Aruj, Ilyas, dan Ishaq. Namun, tak lama berkiprah di lautan, mereka ditimpa musibah atas kematian Ilyas dan Ishaq di tangan pasukan laut Spanyol, Knight of Rhodes.
Dari sinilah mereka sangat marah. Dari kemarahan tersebut, terbakarlah semangat Khairuddin dan kakaknya, Aruj untuk membalas perlakuan zhalim para pelaut Spanyol tersebut. Akhirnya mereka melampiaskan semua itu dengan menjadi tentara sukarela Turki Ustmani yang bersifat swasta dan membajak semua kapal-kapal militer kaum Salibis yang ingin menyerang negara-negara kaum Muslimin. Lambat laun laut mediterania menjadi laut angker bagi pelaut dan pasukan Salib. Akhirnya mereka berdua mejadi buah bibir yang trending topic di seantero Eropa. Para pelaut Salibis yang melihat tanda-tanda keberadaan kapalnya saja langsung mengubah haluan. Nyalinya ciut bak rusa yang melihat raja hutan.
Meskipun begitu, nama Barbarrosa yang jumawa malah menjadi sosok yang menakutkan di Eropa. Saking takutnya, negeri-negeri selatan Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Yunani membangun benteng-benteng pertahanan di wilayah pesisir untuk mengantisipasi serangan Barbarossa Brother. Masyarakat Italia sendiri memberi sebutan Il Diavolo atau Si Setan kepada mereka. Jika anaknya nakal, para ibu di Eropa selalu menyebut nama Barbarossa agar mereka takut. Bahkan para penyair disana menyebut mereka dengan "Pemilik segala kejahatan" dan "Perompak laut yang tak ada bandingannya". Meskipun pada kenyataannya, armada milik anak-anak dari Ya'kub Aga itu tidak akan menyerang kapal-kapal kaum Salibis kecuali mereka yang ingin menyerang daerah-daerah kaum Muslimin.
Runtuhnya Andalusia dan Perjuangan Barbarossa
Andalusia dan sekitarnya, yang sejak tahun 756 M berada di dalam perlindungan Kerajaan Granada dan dipayungi oleh Khilafah Islamiyah. Akhirnya jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri dari Pasukan Aragon dan Spanyol pada tahun 1492 M.
Jatuhnya Andalusia ke tangan para Pasukan Salib ini disebabkan oleh kondisi politik Kerajaan Granada yang sedang kacau balau. Para elit politik dan Gubernur saling sikut. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menjadi mata-mata Pasukan Salib dan di iming-imingi harta, tanah, dan kekuasaan. Apalagi pada tahun 1483 M anak dari Raja Granada, Sultan Muhammad memberontak kepada ayahnya sendiri dan memicu terjadinya perang sipil. Sementara kondisi politik negara-negara Salib sedang membaik. Terlebih setelah pernikahan Raja Ferdinand II dari Aragon dengan Putri Issabella dari Castille, Spanyol.
Taktik yang dipakai oleh Raja Ferdinand II sediri adalah dengan menunggangi pemberontakan Sultan Muhammad. Pasukan-pasukan Salib dikerahkan bersama pasukan Sultan Muhammad untuk memerangi keluarganya sendiri. Akhirnya, kemenangan berpihak kepada Sultan Muhammad. Tetapi, Sultan Muhammad hanya memiliki kekuasaan sebatas di kota Granada saja. Karena Pasukan Salib menekannya dan mengambil alih daerah-daerah selain kota Granada.
Singkat waktu, Raja Ferdinand II mengirimi surat kepada Sultan Muhammad yang menyuruhnya untuk menyerahkan kota Granada kepada Tentara Salib. Padahal ia menyangka bahwa Raja Ferdinand sudah membiarkannya berkuasa di kota Granada. Saat itu ia sadar bahwa ia hanya dijadikan tumbal untuk meruntuhkan kerajaan Granada. Lalu ia berusaha menggalang kekuatan dan meminta bantuan kepada sekutu prajurit-prajurit Turki Ustmani yang berada di Afrika dan Timur Tengah. Namun kerajaan Turki Ustmani hanya memberikannya prajurit angkatan laut yang tidak berpengaruh secara masif untuk meruntuhkan Tentara Salib. Akhirnya pada tahun 1491, Sultan Muhammad menandatangani pengibaran bendera putih di kota Granada. Resmilah seluruh Andalusia dikuasai oleh Pasukan Salib. Adapun suasana di Granada ketika itu sangatlah mencekam. Tidak ada orang yang berani keluar rumah. Jalan-jalan pun sepi dari khalayak. Masjid Cordoba yang memiliki seribu tiang diubah menjadi Gereja. Begitu pula Monumen Alhambra yang tinggal kenangan.
Orang-orang Salib menjanjikan kedamaian dan toleransi kepada kaum Muslimin dan Yahudi yang sedari dulu hidup dengan damai di Andalusia. Tetapi, iming-iming mereka itu semuanya palsu. Justru mereka sendiri yang melanggarnya dan melakukan pembunuhan serta genosida kepada kaum Muslimin dan Yahudi. Akhirnya, mereka pun mengungsi menyebrangi lautan menuju wilayah Afrika Utara.
Kabar ini akhirnya sampai di telinga Khairuddin dan Aruj. Tanpa berpikir panjang, mereka segera mengumpulkan pasukan militan kaum Muslimin dari Bangsa Moor dan menyelamatkan para pengungsi dari Andalusia sampai Afrika utara yang terdiri dari Maroko, Aljazair, dan Tunisia.Sehingga banyak dari mereka yang bergabung bersama armada Barbarossa.
Hubungan Armada Barbarrosa dengan Afrika Utara
Armada Barbarossa terus menggalang kekuatan dan menjalin hubungan dengan penguasa-penguasa Muslim di Afrika Utara seperti Maroko, Aljazair, dan Tunis. Mereka meminta kepada penguasa-penguasa tersebut pulau-pulau yang strategis di Laut Mediteranian untuk dijadikan pangkalan rahasia. Sultan Tunis pun memberikan mereka Pulau Jarbah yang ada di Teluk Gabes dengan kesepakatan, Kerajaan Tunis mendapatkan seperlima bagian dari harta Ghanimah. Pulau Giglio di barat laut kota roma juga disebut-sebut menjadi pangkalan rahasia mereka. Dari sinilah militer-militer Salibis yang ingin menyerang daerah-daerah kaum Muslimin melalui jalur air selalu saja gagal karena sudah dijaga ketat oleh Armada Si Janggut Merah. pasukan air Barbarossa pun berhasil merebut daerah pesisir Aljazair seperti Aljir, Bajayah, dan Jaijil yang sedang dikuasai pasukan Salibis.
Hubungan Kharuddin dan Aruj dengan para penguasa Muslim di Afrika Utara tidak sepenuhnya mulus. Sebagian dari penguasa-penguasa ini malah terancam dengan eksistensi Barbarossa yang kekuatannya semakin membesar. Akhirnya pada tahun 1516, penguasa Aljazair, Sultan Salim At-Thoumi mengusir mereka serta pasukannya dari kawasan Aljazair. Sultan Salim merasa terganggu dengan keberadaan mereka. Apalagi aksi heroik mereka dalam membebaskan daerah-daerah di Aljazair membuat masyarakat Aljazair lebih menaruh simpati kepada kedua bersaudara itu ketimbang sang Sultan yang dinilai tidak memiliki komitmen yang jelas kepada perjuangan kaum Muslimin.
Keputusan Sultan Salim tersebut sangat disayangkan oleh Aruj. Karena menurutnya Aljazair adalah basis perjuangan yang penting dan strategis untuk menghancurkan pihak Salibis. Dengan people power serta dukungan warga Aljazair yang sepenuhnya kepada Aruj. Ia pun akhirnya menggulingkan Sultan Salim At-Thoumi dari tahtanya. Perjuangan Barbarossa yang keseluruhannya di ranah militer, merambat kearah kenegaraan dan politik.
Pada saat yang sama, tampuk kekuasaan Raja Ferdinand II akhirnya bergulir kepada Pangeran Charles yang saat itu masih berumur 16 tahun. Walaupun masih terbilang muda, Charles justru menjadi pemimpin yang sangat penting dan berpengaruh di Eropa. Kondisi laut Mediteranian makin memanas untuk tahun-tahun berikutnya. Adapun satu tahun kemudian, Pasukan Turki Ustmani mengambil alih Mesir dari Dinasti Mamalik. Dan pada saat itu juga hubungan antara Barbarossa Brother dan Kerajaan Turki Ustmani semakin membaik dan mutual karena memiliki tujuan yang sama, yaitu Jihad fi sabilillah.
Syahidnya Aruj Barbarossa
Pada tahun 1518, Aruj serta pasukannya bergegas ke Tlemcen (Tilmisan) untuk menghadapi penguasa setempat yang sempat terkena hasutan Pasukan Spanyol untuk memberontak kepada kepimpinan Aruj. Semetara kekuasaan Aljazair di yang ber ibu kota di Aljir diberikan sementara kepada Khairuddin. Tentara Aruj Akhirnya berhasil menguasai kembali Tlemcen untuk beberapa waktu. Namun, keberadaan Aruj di Tlemcen itu justru adalah rencana busuk Pasukan Spanyol. Para pasukan Salibis itu mengepung Tlemcen dan segera menyerbu pasukan Aruj. Kakak dari Khairuddin ini pada akhirnya lolos dari pengepungan Spanyol. Meskipun akhirnya beliau syahid -Insya Allah- ketika menghadapi pasukan Spanyol yang ada di dekat kota Tlemcen.
Akhirnya, mau tidak mau Khairuddin memimpin sendirian pasukan yang suda ia bangun bersama sang kakak. Wafatnya Aruj sama sekali tidak melemahkan mental Khairuddin. Beliau adalah laki-laki yang kuat secara mental dan fisik. Badannya besar dan kekar. Khairuddin Barbarossa juga memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi serta mahir berbahasa yang digunakan di negara-negara sekitar laut Mediterania seperti : Arab, Yunani, Spanyol, Italia, Prancis, dan Turki. Setelah kematian kakaknya, beliau fokus kepada diplomasi antara Aljazair dengan kerajaan Turki Ustmani. Meskipun beberapa penguasa sekitar kurang memberikan respek kepadanya. Ia menghimbau warga Aljazair untuk menaruh loyalitas kepada Turki Ustmani dan juga mengirim utusan untuk memperbaiki hubungan diplomatik ke Istanbul. Pada tahun 1519 Khairuddin Barbarossa resmi diangkat sebagai Gubernur Turki di Aljazair. Hubungan Khairuddin dengan keluarga istana Istanbul semakin erat setelah Sultan Sulaiman Al-Qanuni -atau yang biasa disebut Sulaiman The Magnificent- menjabat sebagai khalifah Turki Ustmani.
Khairuddin Barbarossa dan Turki Ustmani
Meskipun telah menjabat sebagai Gubernur Aljazair, Khairuddin tidak meninggalkan perjuangannya di air. Khairuddin dan pasukan sempat menyelamatkan sekitar tujuh puluh ribu Muslim yang tertindas di dibawah kekuasaan Charles V. Orang-orang islam di andalusia itu dipaksa untuk murtad. Jika tidak akan disiksa habis-habisan atau menjadi budak. Beberapa rakyat jelata ada yang rela menjadi kristen. Dan sebagian ada
yang mengungsi ke pegunungan dan melakukan perlawanan. Kekuatan mereka jelas tidak imbang dengan tentara Charles V yang disponsori oleh Salibis. Oleh karena itu mereka meminta Khairuddin untuk menyelamatkan kaum Muslimin secara berangsur sampai ke Aljazair.
Pulau Penon milik Spanyol yang terletak diseberang Aljir juga berhasil direbut oleh Armada Khairuddin pada tahun 1529. Beliau dan pasukannya memborbardir benteng pertahanan musuh di pulau tersebut selama dua puluh hari. Benteng itu pun dibobol oleh kaum Muslimin. Sedangkan sekitar dua puluh ribu jiwa manusia yang berada di benteng tersebut dipekerjakan untuk membangun benteng pasukan Barbarossa di pesisir kota Aljir. Tujuh kapal Spanyol yang datang untuk menahan pasukan Khairuddin di pulau itu pun kocar-kacir. Akhirnya kapal-kapal militer tersebut direbut oleh Tentara Khairuddin. Pada saat yang sama, Sultan Sulaiman Al-Qanuni juga menggempur Wina, Austria untuk yang kedua kalinya. Meskipun belum berhasil. Hegemoni Khairuddin di laut dan Sultan Sulaiman di darat semakin membuat Eropa semakin tertekan.
Pada tahun 1533, Khairuddin diundang oleh Sultan Sulaiman ke Istanbul. Khairuddin membawa empat puluh armada kapalnya kesana dan dipertengahan jalan sempat memenangkan pertempuran dengan armada Hamburg milik Jerman. Sesampainya di Istanbul, Khairuddin disambut dengan meriah oleh rakyat Turki dan diangkat oleh Sultan Sulaiman sebagai Kapundan Pasha atau Admiral tertinggi armada laut Turki Ustmani. Khairuddin sangatlah pantas mendapatkan amanah tersebut. Kemampuannya untuk mengatur pasukan, strategi, dan siasat di lautan memang belum ada yang bisa menandingi di masa itu. Bahkan konsul Prancis di Turki menyatakan bahwa awal puncak kesuksesan Dinasti Ustmani di lautan adalah ketika Khairuddin menapakkan kaki di Istanbul.
Konflik antara Dinasti Ustmani semakin membara, pasukan gabungan Spanyol berhasil merebut Tunisia dari Dinasti Ustmani pada tahun 1535. Khairuddin pun segera membalasnya dengan menyerang Puerto de Mahon di kepulauan Beleares, Spanyol dan membajak kapal-kapal Spanyol dan Portugis yang baru pulang membawa emas dan perak -yang dirampas dari penduduk setempat- dari benua baru, Amerika.
Khairuddin Barbarossa dan Andrea Doria
Pada tahun 1538, Terjadilah sebuah pertempuran besar antara Armada Dinasti Utsmani dengan Salibis di Preveza, Yunani. Armada Salibis sendiri dipimpin oleh Andrea Doria, seorang Admiral laut yang terkenal tidak terkalahkan di Eropa. Mereka memiliki sekitar enam ratus kapal gabungan yang mencakup armada Spanyol, Holy Roman Empire, Venesia, Portugis, Genoa, Vatikan, Florence, dan Malta. Sedangkan di pihak Barbarossa sendiri hanya memiliki sepertiga dari pasukan Andrea. Namun, Urat nyali Khairuddin seperti sudah putus. Tidak ada ketakutan sedikitpun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Peperangan dimulai setelah saling mengintai di perairan Ionian, Yunani. Armada Barbarossa memasuki Selat Preveza yang sempit dan menunggu di teluk besar yang terdapat di bagian dalamnya, sementara musuh menunggu mereka di luar. Ini terjadi pada hari Jum’at, 27 September 1538. Barbarossa mengumpulkan pasukannya untuk mengatur strategi dan memutuskan untuk bergerak keluar dan menghadapi musuh secara langsung. Armadanya melintas keluar Selat Preveza pada hari Sabtu sebelum fajar. Kedua armada besar itu saling berhadap-hadapan pada saat matahari baru saja naik. Barbarossa dan armadanya berhasil menerapkan strategi perang secara jitu. Kendati jumlah kapal mereka lebih sedikit, tapi kapal-kapal mereka lebih lincah dan meriam-meriam mereka mampu menjangkau jarak yang lebih jauh. Setelah bertempur selama beberapa jam, armada Barbarossa mampu melumpuhkan separuh armada Kristen. Kekalahan telak yang tak disangka-sangka ini membuat armada pimpinan Andrea Doria itu terpaksa mengundurkan diri. Kaum Muslimin berhasil memenangkan pertempuran besar itu.
Wafatnya Si Janggut Merah
Setelah tahun 1538 M, beberapa pertempuran masih terjadi antara pihak Salibis dan Muslim, dan lebih sering dimenangkan oleh pasukan Muslim. Ketika Charles V berusaha menguasai Aljazair dengan 200 kapal perangnya pada tahun 1541 M, mereka malah dijebak badai di perairan Aljir, dan terpaksa kembali pulang dengan kerugian besar. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Khairuddin sempat ditugasi membantu pasukan Prancis yang pada masa itu bermusuhan dengan Spanyol di bawah kepemimpinan Charles dan memilih untuk bersekutu dengan Turki. Ia membantu Prancis merebut kota Nis pada tahun 1543, kemudian menetap di kota Toulon selama musim dingin, sebelum pergi ke Genoa untuk menegosiasikan pembebasan salah satu anak buah terbaiknya, Turgut Reis.
Khairuddin Barbarossa meninggal dunia di kediamannya di Istanbul pada Juli tahun 1546. Ia tetap dikenang sebagai seorang pejuang lautan yang tangguh dan seorang mujahid kendati orang Eropa menyebutnya sebagai ‘Perompak Laut’. Selama masa hidupnya, sebagian besar wilayah Afrika Utara berhasil dibebaskan dari penjajahan Eropa dan perairan Mediterania berhasil diamankan. Setelah wafatnya, kedudukan Khairuddin Barbarossa sebagai Kapudan Pasha dipegang oleh Turgut Reis yang syahid pada tahun 1565 M dalam pertempuran menghadapi ordo Saint John di Pulau Malta.
Kairo, 29 Desember 2018
Dzikri Ijda

Kok yidakbada nama penulisnya, danbtanggal ditulis pada desember 2019?
BalasHapusMaaf utk kesalahan tahun, kmi sdh perbaiki berserta nama penulis
Hapus